Tentang Bapak
Beberapa hari yang lalu, sobat saia berdiri di depan pintu kamar dengan mata yang bengkak. Saia pun bertanya, kenapa nangis semalaman. Bukan kata-kata yang saia dapat sebagai jawabannya, tapi air mata yang sangat deras. Bapaknya sakit. Dan dia merasa bersalah karena tidak tahu dan malah ingin merepotkan beliau. Saia pun sedih dan berkaca-kacalah mata saia. Saia hanya bisa memeluknya dan menenangkannya.
Suatu waktu saia berada di ruangan DPA saia. Yap, dosen pembimbing akademik. Dikarenakan beberapa dari kami mengambil TA di semester ini, maka kami pun berbincang cukup lama di ruangannya. Ketika dia mengamati kertas dihadapannya, saia pun mengamati kertas yang tertempel di dinding sebelah saia.
Dari: dhifan.
Begitu kira-kira tulisan di kertas tersebut. Kenapa kira-kira? Karena emang tulisannya agak sulit dibaca, ditulis dengan pensil, tidak beraturan dan itu adalah tulisan seorang anak kecil yang menimpa huruf yang salah dengan huruf lain tanpa/malas mungkin menggunakan penghapus.
Cukup lama saia terpaku tulisan itu.
Saia pun teringat Bapak saia. Sudah seminggu ini saia tidak berkomunikasi dengan beliau. SMS pun tidak. Ternyata rutinitas dan kenyamanan sendiri membawa saia jauh dari rasa rindu. Jahat sekali.
Lewat dua kejadian tadi, saia diingatkan bahwa saia masih memiliki Bapak yang juga butuh perhatian anaknya, setidaknya menanyakan kabarnya. Dia tidak menuntut tiap hari, yang saia tahu dia ingin berada dalam setiap doa dan harapan saia. Terkadang saia lupa bersyukur Bapak masih sehat. Bapak masih bisa beraktifitas tanpa kekurangan. Malah Bapak yang menyarankan saia menjaga kesehatan.
Saia sangat dekat dengan Bapak. Bahkan melebihi kedekatan saia dengan Ibu saia. Tapi setelah kuliah, saia lebih dekat dengan Ibu saia. Saia ingat sewaktu SD hingga kelas 2, saia diantar Beliau ke sekolah, dan menemani saia hingga lonceng tanda persekolahan dimulai berbunyi, baru saia persilahkan Beliau ke kantor. Beliau termasuk seorang yang ambisius dan saia pun tertular. Namun, sewaktu kelas 4 SD, Beliau dimutasikan ke Sumatra. Saia sedih sekali, tak ada lagi yang mengantar saia ke sekolah, tak ada lagi yang membantu saia menyiapkan buku untuk esok hari sekolah, tak ada lagi yang menyalurkan ambisi yang jadi amunisi belajar saia. Beliau memang tetap menyemangati saia dari jauh, tapi tidak cukup. Ibu saia mengganti peran beliau dirumah. Ibu tidak terlalu keras dalam menyuruh saia belajar. Justru dorongan terkeras saia untuk belajar adalah ketika Bapak pulang setiap liburan sekolah, saia ingin Beliau memuji prestasi saia di sekolah. Beliau mendorong saia berusaha dengan keinginan sendiri.

Setelah merasa segala sesuatu cukup, baik psikis dan materiil, Bapak memboyong kami ke Sumatra, Riau tepatnya. Yes, kami bersama lagi. Jenjang menengah pertama terlewati dengan mulus. Tapi Beliau jarang menemani saia belajar lagi, jarang menjemput saia dari les dan kegiatan sekolah lainnya. Saia harus berjalan sendiri sekarang, tapi Beliau selalu ada memberi nasihat, walau terkadang membuat saia menangis, karena Beliau galak dan tegas,hehe. Setelah SMA, saia lebih sering berdiskusi tentang agama, hidup, kuliah dan pekerjaan dengan Bapak. Tak ada omongan tentang cowok yang saia sukai, obrolan tentang cowok yang naksir saia. Tak ada. Bahkan saia menangis ketika Bapak melihat surat yang diberikan seseorang kepada saia.HAHAHA. Saia hormat, taat bahkan cenderung takut pada Bapak.
Dan saat ini, apa yang saia lewati dan jalani sekarang, itu juga harapan dan doa Beliau dan Ibu, tentunya. Tapi saia sangat jarang berkata ’ sehat, pak?’, ’sukses ya pak buat kerjaan di kantor!’, ’Pak, saia sayang Bapak!’. JARANG sekali. Hanya ketika butuh dana, hanya ketika Beliau mengirimkan dana dan untungnya saia ingat mengatakan rasa sayang pada Bapak ketika Beliau berulangtahun.
Tapi satu hal yang saia tahu dan ingin Bapak tahu bahwa saia sangat sayang Bapak. Saia ingin memenuhi semua harapan Bapak.
Dan di bulan ini, ada beberapa negara yang mengadakan Hari Bapak atau Hari Ayah. Saia mengucapkan selamat hari Bapak untuk semua Bapak di dunia dan calon-calon Bapak.

About this entry
You’re currently reading “Tentang Bapak,” an entry on aku dan dunia
- Published:
- February 4, 2008 / 3:48 pm
- Category:
- dunia ceria
- Tags:








3 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]